Sep 12, 2009

Indahnya Buka Puasa Bareng... ^_*

BERBUKA puasa adalah salah satu momen paling ditunggu-tunggu dan paling membahagiakan bagi umat Muslim sedunia yang sedang berpuasa selama seharian penuh, dari sebelum terbit fajar hingga petang.
Ketika bedug atau suara adzan sholat magrib dikumandangkan, umat Muslim harus menyegerakan untuk berbuka atau membatalkan puasanya.
Dari tahun ke tahunnya, mahasiswa Pendidikan Fisika FKIP Untad, selalu mengadakan buka puasa bareng di setiap bulan Ramadhan. Di bulan ini, beberapa angkatan mahasiswanya telah menunaikan kegiatan tersebut, secara bergiliran. Mulai dari angkatan ’06 yang diadakan di kediaman sobat kita Anita Sari, dilanjutkan oleh angkatan ’08 di kediaman Mastarina, dan diakhiri oleh kolaborasi angkatan ’07 dan ’09 di kediaman Agus Priyono. Sedangkan angkatan ’05 ke atas sudah tidak diwajibkan lagi untuk mengadakan kegiatan ini, sebab pasalnya mereka banyak yang sudah menyelesaikan kuliahnya.
Di balik kebiasaan tersebut, menurut mereka kegiatan tersebut juga dapat mempererat tali persaudaraan dan silaturahmi, kesolidan, kerukunan, dan kokohnya hubungan di antara mereka ke depannya. Serta, menjadi ajang beramal dan bersedekah dalam memberi makanan berbuka puasa kepada orang lain Sebab, dalam setiap kegiatannya, seluruh mahasiswa dan para dosen diundang atau dipersilahkan untuk menghadirinya. Ceritanya “Open House” gitu!
Biasanya acaranya dimulai pukul 05.00 sore. Sebelum berbuka puasa, pihak tuan rumah (angkatan yang mengundang, red) mengundang penceramah (ustadz) untuk mengisi ta’lim beberapa menit sambil ngabuburit. Setelah berbuka puasa dengan yang manis-manis secukupnya, mereka nggak menunda-nunda lagi pelaksanaan sholat magrib secara berjamaah. Kemudian, para undangan dipersilahkan makan dengan hidangan yang lengkap. Uenakk tenan…!!! He,, he,, he,,,.
Hikmah dari berbuka puasa sangat dirasakan oleh mereka. Apalagi bagi mereka yang merupakan anak-anak kost. Katanya, “Bisa gantung belanga dech!” he,, he,, he,,. Mereka mengatakan istilah tersebut tanpa malu-malu lagi. Sebab, ada buka puasa gratis kenapa harus dilewatkan? Istilah “Bisa gantung belanga”, merupakan istilah yang cukup unik dan bermakna, bahwa mereka gak perlu masak lagi untuk berbuka puasa di kost. Kan bisa hemat biaya??? Betul juga yach! Kalu kata Ipin, adiknya si Upin, “betuu,, betuul,,!!!”
Keceriaan pun akan muncul pada momen yang indah tersebut. Sebab, senior bisa mengenal juniornya, dan sebaliknya junior bisa pedekate dengan seniornya. Ber-pose bersama pun gak pernah terlewatkan dalam momen membahagiakan tersebut.
Bukankah asyik, bisa mengungkapkan keceriaan di bulan Ramadhan bersama teman-teman se-angkatan, juga teman-teman senior dan junior kita! Mau dunk, Tim Supel n’ sobat-sobat Supel diundang ke acara buka puasa barengnya! Tahun depan lagi, kita tunggu undangannya yach, he,, he,, he,,! (Yuli_Supel)

Bersafari Ramadhan di Palolo

PALOLO – Mahasiswa Untad yang tergabung dalam kepengurusan Kembaga Dakwah Kampus Unit Pengkajian Islam Mahasiswa (LDK UPIM), beserta rombongan Mahasiswa Pencinta Musholla (MPM) di Untad mencoba selalu optimal dalam mengemban visi-misi mereka, yaitu menghidupkan semangat dakwah di masyarakat. Tidak hanya itu, mereka juga siap memanfaatkan kesempatan dan fasilitas yang diamanahkan oleh pihak Untad, khususnya di bawah koordinator Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Untad. Rombongan civitas akademika Untad tersebut berhasil mengadakan Safari Ramadhan ke beberapa desa di Palolo, pada Selasa (8/9) lalu.
Rombongan Safari Ramadhan ini, telah melakukan Safari Ramadhan (Perjalanan Ramadhan, red) ke empat desa yang berbeda di Palolo yaitu, Desa Petimbe, Desa Makmur, Desa Ranteleda, dan Desa Berdikari yang dilakukan selama tiga hari dari 8-10 september kemarin. Selama beberapa hari, mereka menginap di ruangan yang ada di Sekolah Al Khairat Makmur Jaya Palolo, dengan disambut hangat oleh Kepala Sekolah tersebut secara langsung.
Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, dengan melakukan ceramah agama di empat desa tersebut. Ceramah agama diawali oleh rombongan mahasiswa yang mendapat jadwal di malam pertama, serta rombongan dosen yang dipimpin langsung oleh Rektor Untad di malam kedua. Sedangkan pada siang hari di hari kedua, juga diadakan pelatihan remaja di Palolo oleh LDK UPIM. Kegiatan ini tentu saja dapat mempererat tali silaturahmi antara pihak Untad dengan masyarakat di Palolo, yang kebetulam Untad memiliki kebun percobaan di daerah tersebut.
Rektor Untad, Drs Sahabuddin Mustafa, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh masyarakat Palolo yang sudah dengan senang hati menerima kedatangan Tim Safari Ramadhan Untad. Sahabuddin juga mengatakan ada rasa kesyukuran yang luar biasa bagi civitas Untad, sehingga dapat bersilaturahmi dengan masyarakat Palolo.
“Kedatangan kami tidak membawa bantuan apa-apa untuk masyarakat Palolo, tapi malam ini kami membawa rombongan penceramah. Sehingga, insya Allah berguna menambah pengetahuan agama, serta dapat mencerahkan spiritual masyarakat,” ungkapnya.
Begitu low profile-nya Sahabuddin, hingga ia berucap demikian. Padahal rombongan Untad membawa atau menyiapkan beberapa bahan sembako, yang oleh inisiatif LDK UPIM disedekahkan kepada masyarakat Palolo, melalui masjid-masjid di beberapa desanya. Sedekah yang mereka berikan berupa beras, beberapa gula pasir dan blek susu.
Ketua LDK UPIM, Rusli, sangat bersyukur karena suksesnya kegiatan ini.
“Selaku panitia pelaksana, kami sangat berterima kasih diberikan kesempatan untuk ikut terlibat memfasilitasi kegiatan ini. Semoga, ini bukanlah silaturahmi yang pertama dan terakhir bersama masyarakat Palolo. Saya berharap, ke depannya akan banyak kegiatan keagamaan yang dapat dilaksanakan atas kerjasama dengan masyarakat setempat” pungkasnya. (Dept. Humas & Litbang)

Aug 8, 2009

Gontor Poso, Gontor ke-12 di Indonesia


Kali ini, jauh-jauh Tim Supel mendapatkan informasi ter-update di Poso Pesisir loch! Ada sebuah tempat berguru Ilmu Islam yang bernama Pondok Modern Ittihadul Ummah Gontor Poso di daerah ini. Dari mahasiswa Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang tergabung dalam Sulawesi A (Sulut, Gorontalo, dan Palu), disambut penuh hangat di pondok luas dan teduh tersebut, meskipun cuaca kala itu cukup panas, pada Minggu (2/8) lalu.

Karena Tim Supel berada di kumpulan LDK akhwat (perempuan, red), maka Tim Supel hanya meliput keberadaan santriwati atau siswi di Gontor saja. LDK ini hendak bersilaturahmi ke pondok ini, setelah acara penutupan Temu Lembaga Dakwah Kampus (TLDK) se-Sulawesi A pada hari tersebut.

Sesuatu yang hebat dari pondok ini, menurut Abdullah Sukri selaku pendirinya, pondok ini mencetak alumni atau lulusan menjadi manusia besar di mata Gontor. Bukan sukses menjadi seorang petinggi atau pejabat, akan tetapi besar yang dimaksudkan ini adalah menjadi lulusan yang mau mengajarkan dari ilmu yang telah diperolehnya, di musholla-musholla yang kecil, dengan segala keikhlasan, dengan perjuangan yang tinggi dan masyarakat mengakui segala kehebatan tindakannya tersebut.

Para tenaga pendidik di pondok yang baru berdiri setahun lebih ini, yaitu pada tanggal 18 Juli 2008 lalu, adalah tenaga pendidik yang juga telah lulus dari pondok pesantren Gontor yang mungkin dari beberapa cabangnya yang ada di Indonesia. Rata-rata, pendidik di pondok ini adalah lulusan S1 Fakultas Ekonomi suatu perguruan tinggi, dan sebagian kecil lulusan S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dengan umur yang masih begitu muda.

Menurut ustadzah Fadilah, para santri dan santriwati wajib mengikuti segala tuntutan peran pembelajaran sebagai proses menuju kualitas yang diharapkan.
“Di Gontor tidak diklasifikasikan kelas jurusan seperti di sekolah-sekolah negeri pada umumnya, di sini kami mempelajari seluruh pelajaran secara umum. Karena waktu belajar hamper 24 jam non-stop, dapat dikatakan kami mempelajari 100% Agama Islam dan 100% Ilmu pengetahuan lainnya,” tutur Fadhilah yang baru-baru saja menyelesaikan studinya di sebuah perguruan tinggi selama 4 tahun tersebut.

Tahu tidak teman-teman, dalam keseharian para santriwati wajib berbahasa Arab dengan para ustadzah atau Ibu Guru. Setiap paginya sekitar setelah melaksanakan solat Subuh, mereka harus menghafal kosakata bahasa Arab yang sering disebut ‘mufrodat’ sebelum mandi dan kemudian masuk mengikuti mata pelajaran.

Barangsiapa santriwati yang melanggar tata bahasa Arab dalam kesehariannya, akan dihukum dengan tindakan yang dapat membuat santriwati itu merasa malu dan jera. Misalnya, ustadzah menyuruhnya menggunakan jilbab yang warnanya mencolok atau terang, sebagai tanda bahwa santriwatinya itu melakukan pelanggaran. Tentu aja yang dihukum akan merasakan malu banget! Sebab, rasa malu adalah salah satu rasa yang menandakan masih adanya keimanan seorang hambanya yang beragama Islam loch….

Ini nih hasil wawancara Tim Supel dengan empat santriwati di Pondok yang luas dan rindang ini:
“Saya sekolah di pondok ini sejak saya seumuran dengan siswa sekolah SMP. Bahasa Arab adalah mata pelajaran yang saya paling sukai, setiap subuh saya mencoba mempelajarinya kembali. Namun, saya lebih banyak memusatkan pikiran untuk memperhatikan baik-baik ustadzah yang sedang mengajar di kelas. Sebab kata ustadzah, cara paling baik untuk belajar adalah di dalam kelas,” ungkap Istiani.

Pelajaran kesukaan Istiani sama dengan yang dirasakan oleh Maya, Ia berfikir bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan atau yang ada dalam Kitab Suci al-Qur’an, sehingga Ia ingin menguasai bahasa tersebut.

Lain halnya dengan Ira, Ia lebih menyukai pelajaran Mutola’ah. Pelajaran ini serupa dengan bahasa Indonesia, yaitu mempelajari cerita-cerita seru dalam bahasa Arab.
“Orang tua saya, sangat berharap dengan masuk di pondok ini, saya mampu memperbaiki diri, bisa berbahasa Arab dan menjadikan akhlakul karimah dalam diri saya,” cetus si Ira.
Satu lagi nich, sobat kita yang satu ini suka pelajaran Nahu. Ia bernama Hijriah, yang kalau diartikan dalam bahasa Arab adalah berpindah. Mudah-mudahan aja dapat pindah atau menuju ke arah pribadi yang lebih baik, amin. Nahu merupakan mata pelajaran yang membahas persoalan tata bahasa (teori) bahasa Arab itu sendiri.

Santriwati harus bisa mengikuti seluruh jadwal yang telah ada di pondok, yaitu misalnya bangun tepat pukul 04.00 pagi, solat subuh, menghafal mufrodat, masuk kelas pukul 08.00 dan keluar kelas pukul 12.00. Pada sore hari setelah pelaksanaan solat Ashar dan Isya juga ada jadwal belajar di kelas.

Menurut Abdullah, tidak ada waktu istirahat di pondok ini, atau dengan kata lain 24 jam non-stop. Seluruh sukarelawan atau pendidiknya memiliki prinsip kokoh dari sebelum-sebelumnya, untuk berjuang dengan penuh keikhlasan dan mencari pekerjaan sebanyak-banyaknya.
Di tahun 2000, Gontor baru bisa diakui oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) atas kebijakan presiden pada saat itu. Meskipun begitu, sudah jauh-jauh hari setelah berdirinya Gontor di Indonesia, masyarakat di luar negeri telah mengakui keberadaannya, misalnya masyarakat di Mlaysia, Mesir, Singapura, Italia, dan Saudi Arabia. Pondok Instiqomah di Ngatabaru, Palu merupakan pondok alumni dari Gontor.
Sudah ada 3000 pondok pesantren alumni didikan Gontor, dengan menamatkan 20.000 lebih santri-santriwatinya.

Menurut fadhilah, Gontor Poso ini masih di bawah yayasan dan dikelola langsung oleh pihak tenaga pengajar di pondok tersebut. Ada 11 tenaga pengajar di pondok ini, dengan mengajar 200 lebih santri dan 118 santriwati. “Insya Allah sebentar lagi Gontor Poso ini akan diresmikan menjadi Gontor ke-12 di Indonesia,” pungkasnya. (Yuli)

Send Your Message To My EmaiL....

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):