Sep 3, 2008

Pendidikan Kesehatan dan Reproduksi


1. Resiko Perkembangan Tehnologi Informasi Terhadap Pergaulan RemajaPerkembangan tehnologi telah banyak memberikan kemudahan bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Tehnologi elektronik misalnya; telah mempermudah akses pada informasi tak terbatas. Akan tetapi di sisi lain memunculkan persoalan yang sangat komplek di segala lini kehidupan, terutama bagi remaja. Persoalan yang muncul bisa bersifat medis, psikologis, maupun sosial-ekonomi. Hal ini disebabkan karena banjir informasi yang mereka terima tanpa saringan tersebut tidak diikuti dengan kesiapan intelektual, mental dan spiritual yang memadai.
Salah satu akibat dari banjir informasi yang tidak dihadapi dengan segala kesiapan ini adalah pola pergaulan remaja yang cenderung semakin bebas seiring dengan sikap para orang tua dan masyarakat yang semakin permisif (longgar). Tak pelak lagi kebebasan pergaulan ini sering berujung pada kejahatan seksual. Gejala yang bisa dilihat adalah banyaknya kasus kehamilan yang tidak dikehendaki, maraknya tempat praktek pengguguran kehamilan (unsafe abortion) secara ilegal serta munculnya trauma akibat berbagai bentuk kekerasan seksual dan persoalan sosial-ekonomi yang muncul akibat berhenti sekolah.
Menurut Anis Farikhatin, jika dicermati lebih lanjut, kenyataan tersebut merupakan fenomena gunung es dimana yang terlihat hanyalah yang dipermukaan, sedangkan keadaan riil dibawahnya berlipat-lipat jumlahnya namun masyarakat tidak peduli dan abai dengan sikap dingin. Gejala tersebut akan terus menguat seiring dengan berkembangnya konsumerisme-hedonistik. Para remaja mulai terbawa pada suatu pandangan bahwa remaja harus memiliki pacar; dan berkencan dalam proses. Yang lebih mengejutkan lagi mereka sudah mulai setuju terhadap hubungan seks pra-nikah. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Pusat Studi Seksualitas (PSS) PKBI Daerah Istimewa Yogyakarta terhadap siswa yang duduk di bangku sekolah pada tahun 2004 yang menghasilkan informasi sebagai berikut:
1)Jumlah remaja sekolah (SLTP & SLTA) di DIY sebanyak 64.928 siswa. 2)Mereka yang setuju terhadap hubungan seks karena alasan akan menikah mencapai 72,5 % siswa laki laki dan 27,5 % siswa perempuan.
Selain itu Synovate Research yang meneliti perilaku seksual remaja di 4 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan, sejak September 2004 (survey ini mengambil 450 responden dengan kisaran usia antara 15-24 tahun, kategori masyarakat umum dengan kelas sosial menengah ke atas dan ke bawah menghasilkan informasi sebagai berikut: 1) Pengalaman seksual remaja : 44% responden mengaku mereka sudah pernah punya pengalaman seks di usia 16-18 tahun. 16% lainnya mengaku pengalaman seks itu sudah mereka dapat antara usia 13-15 tahun. 2) Mereka yang setuju terhadap hubungan seks karena alasan suka sama suka sebanyak 71.5% siswa laki laki dan 28,5 % siswa perempuan. Ketika para siswa tersebut ditanya mengenai proses terjadinya kehamilan, ada 86 % siswa baik laki laki maupun perempuan yang tidak mengerti tentang kapan terjadinya masa subur (PSS PKBI 2004).
Jika kemudian ditanya lebih lanjut, siapa yang paling tidak berdaya menghadapi resiko dari pergaulan yang cenderung bebas tersebut? Jawabnya tentu saja perempuan. Bagaimana tidak, karena perempuanlah yang akan menanggung akibat paling berat, mulai dari pemaksaan, aborsi kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD) sampai HIV/AID. Keadaan ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan serta kekurang fahaman mereka tentang kesehatan reproduksi (kespro), khususnya masalah seksualitas. Hal tersebut diperparah lagi dengan berbagai kebijakan yang tidak memihak pada perempuan, seperti dikeluarkan dari sekolah bagi siswi yang kedapatan hamil. Keadaan seperti itu membuat kondisi kejiwaan mereka mudah rapuh sehingga mudah kehilangan jati diri, harga diri dan masa depan.
Sementara itu masyarakat dan para orang tua bersikap kurang peduli dan masih menganggap masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas sebagai masalah yang tabu untuk dibicarakan. Tidak terkecuali para tokoh agama. Dalam masyarakat Islam menyelesaikan persoalan remaja lebih sering menggunakan pendekatan fiqih (hukum) yang menghakimi dari pada memberikan bimbingan, arahan yang bersifat dialogis solutif. Pemerintah juga terlihat kurang peduli karena menganggap permasalahan kesehatan reproduksi (kespro) masih dianggap belum serius dan tidak perlu menjadi prioritas karena sudah dianggap inhern dengan mata pelajaran agama, PPKn, IPS, dan biologi.2. Pendidikan kespro sebagai solusi alternative
Keadaan seperti di atas sudah mulai disadari oleh para orang tua dan juga guru, terutama guru Bimbingan dan Konseling (BK) dan guru agama. Adapun tujuan pendidikan kespro adalah: 1) Memberikan dan mengelola pengetahuan kesehatan reproduksi dan seksual bagi siswa. 2) Membangun sikap positif pada diri siswa untuk menghadapi persoalan seksualitas dan reproduksi 3) Membentuk perilaku siswa yang bertanggung jawab dalam konteks seksualitas dan reproduksi
Sekolah merupakan salah satu sektor pendidikan yang paling teroganisir dan mudah dikontrol. Upaya memasukkan materi kesehatan reproduksi ke dalam kelas merupakan sesuatu peluang berharga yang sangat memungkin untuk dilaksanakan meskipun dengan penerapan yang berbeda. Apalagi dengan mulai berlakunya KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) memberi kesempatan yang luas bagi para guru untuk mengembangkan kreativitasnya dalam pembelajaran di kelas yang diampunnya.Mengatasi masalah remaja yang terkait dengan masalah kesehatan dan reproduksi (kespro) merupakan masalah rumit dan kompleks. Ia tidak cukup hanya dilihat dari satu sisi saja. Pendidikan kesehatan dan reproduksi bukanlah satu satunya ’jurus mabuk’ yang bisa menyembuhkan permasalahan remaja hanya dengan sekali pukul. Ia harus berjuang melalui berbagai kendala yang cukup menguras kesabaran mulai dari level birokrasi, level konsep, sampai pada level implementasinya di lapangan (proses pembelajaran di kelas). Terutama sekali pada level implementasi; karena setiap kegiatan pembelajaran akan berhadapan dengan masalah yang tidak kalah rumitnya, misalnya masalah kondisi (manajemen) tiap tiap sekolah yang berbeda; peserta didik yang berbeda latar belakangnya (ada SMK yang mayoritas putra/ putri, ada SMA yang komposisi siswa putra dan putrinya seimbang), situasi dan kondisi yang pada saat materi tersebut diajarkan, sarana apa yang diperlukan/ yang sesuai dengan tingkat keberhasilan yang ingin dicapai, bagaimana pendekatan yang paling tepat digunakan dan sebagainya.Dengan demikian. perlu adanya dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak seperti Dinas Kesehatan,Dinas Pendidikan, BKKBN, PKBI, pemuka agama secara moril maupun materiil kepada para para guru pengampu materi kespro agar lebih mantap melangkah dengan penuh percaya diri.
3. Perlunya Pendidikan Kespro yang berorientasi pada nilai (Affective Oriented)Pendampingan yang intensif melalui pertemuan rutin para guru pengampu untuk berbagi pengalaman sangat diperlukan untuk lebih melengkapi/ menyempurnakan materi, metode, media maupun pendekatan yang digunakan. Selain itu materi kesehatan reproduksi (kespro) perlu dikemas dengan strategi pembelajaran yang lebih berorientasi pada pendidikan affektif (nilai nilai).
Guru kespro dituntut untuk mampu menyajikan materi bukan sekedar untuk ”diketahui”; tetapi menjadi “nilai-nilai” yang diinternalisasikan dalam diri peserta didik agar mampu menjadi motivasi dalam bersikap, berbuat dan berperilaku secara kongkrit dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa hal tersebut pendidikan kespro hanya akan menyelesaikan masalah pada tingkat permukaan berupa menurunnya angka KTD (kehamilan yang tidak dikehendaki) dan aborsi (karena mereka tahu bagaimana melakukan savety sex); tapi tidak menyentuh pada akar persoalannya berupa pelecehan terhadap nulai-nilai hidup dimana aktifitas seksual tidak bisa hanya dimaknai sebagai rekreasi tetapi sesungguhnya mengandung nilai pro-kreasi di mana hidup harus dimuliakan. Untuk itu penting sekali pendidikan kespro diarahkan untuk menjadi bagian dari pendidikan untuk pemuliaan harkat dan martabat manusia melalui penguatan mental spiritual agar mampu berusaha menjadi manusia yang bertanggung jawab, terhormat dan membuktikan manusia sebagai mahluk yang mulia (sumber http://www.kespro.com/, lalu saya dikomentari).

Memberdayakan Seksualitas Perempuan

Resensi Buku

Judul Buku : Hegemoni Heteronormativitas Membongkar Seksualitas Perempuan yang Terbungkam.
Penulis : Endah Sulistyowati, Dkk.
Penerbit : Kartini Network, Jakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : xxxii + 397 Halaman


Tiga Kelompok Perempuan yang Malang

Dalam beberapa tahun terakhir, perbincangan mengenaiseksualitas telah mengalami perkembangan cukup berarti. Seksualitas yang sebelumnya dianggap sebagai persoalan pribadi, saat ini tampil tanpa henti di wilayah publik. Karena itu, selain baru, membincang soal seksualitas di ruang publik juga penuh tantangan. Apalagi selama masa transisi politik dan krisis ekonomi serta bencana yang serius belakangan ini, seksualitas bagi banyak orang dianggap sebagai topik pembicaraan yang tidak penting, atau bahkan penyelewengan dari diskusi serius seperti kemiskinan, krisis ekonomi, bencana, korupsi, kekerasan berbasis agama, atau tema-tema lainnya.
Kendati demikian, masa transisi dapat dipahami sebagai titik tolak untuk memahami dan mengkonsolidasi gagasan demokrasi secara menyeluruh. Dua langkah penting untuk agenda semacam itu adalah konstruksi nilai-nilai dan sistem pengetahuan yang selama ini menjadi dasar ketidakadilan sosial, dan berikutnya peletakan nilai-nilai sipil seperti toleransi, keadilan, akuntabilitas, non-kekerasan dan nilai-nilai lainnya yang fundamental bagi terwujudnya demokrasi yang ideal.
Kehadiran buku HegemoniHeteronormativivtas; Membongkar Seksualitas Perempuan yang Terbungkam hasil penelitian di dua negara, Indonesia, dan India ini, seakan mempertegas kembali bahwa sudah tiba saatnya menmbus batas tema-tema diskusi di atas. Karena, mempertanyakan seksualitas juga termasuk agenda penting demokratisasi. Semakin mendesak lagi, karena seksualitas mempunyai wilayah internal politiknya sendiri, ketidakadilan, dan modus penindasan sendiri.
Tidak bisa misalnya, seksualitas hanya didekati dengan konsep-konsep politik konvensional, seperti demokrasi liberal, Marxisme, atau feminisme. Sebab kita tahu, feminisme sukses besar menjelaskan hubungan tidak adil antara laki-laki dan perempuan, tapi gagal memahami ketidakadilan yang bersumber pada seksualitas. Femisisme dianggap terlalu banyak terkonsentrasi pada jender kalau pun ada perbincangan soal seksualitas dalam feminisme, biasanya adalah perusahaan seksualitas yang masih dalam bingkai heteroseksualitas.
Oleh karena itu, premis bahwa hegemoni heteronormativitas yang membentuk gagasan-gagasan tentang seksualitas yang selama ini dianggap normal perlu dipertanyakan dan dibongkar kembali. Mengapa heteronormativitas (ideologi bhwa heteroseksualitas adalah bentuk hubungan seksual yang sah) dan mengapa perlu dibongkar? Sebab, sebagaimana ditunjukkan Saskia E. Wieringa dalam pengantar buku ini, “sesungguhnya seksualitas normatif adalah hasil sebuah kontruksi sosial” (hlm. xi).
Secara umum, buku setebal 397 halaman ini merupakan kumpulan profil dari hasil studi komparasi tentang bagaimana sistem heteronormativitas bekerja di dua masyarakat yang berbeda latar belakang sosial-budaya dan politiknya, yakni Indonesia dan India. Penelitian dilakukan terhadap tiga kelompok konstituen: janda, pekerja seks, dan lesbian, kelompok yang selama ini dipinggirkan dan dihinakan.
Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa ternyata meskipun berlatar sosial-budaya, politik, dan hukum berbeda, ada yang ajek dan lestari yaitu identitas jender serta relasi seksual hetero yang dianggap alamiah, dan karenanya harus dijaga dan dibentengi. Selain itu, buku ini ingin mengungkapkan bagaimana sistem heteronormativitas bekerja dalam konteks masyarakat Indonesia dan India dengan perbedaan dan persamaan di antara keduanya (agama, politik, sejarah, hukum) dan masalah-masalah yang dihadapi kaum perempuan.
Dengan memahami sistem heteronormativitas melalui kehidupan ketiga kategori perempuan tersebut, memungkinkan kita mengungkapkan cara-cara perempuan mengekspresikan agensi seksualnya (sexual agency) dengan mengguncang dominasi ideologi jender yang selama ini mengontrol seksualitas mereka. Jadi dengan mengamati bagaimana janda, lesbi, dan pekerja seks bernegosiasi dengan sistem jender dan seksual yang hegemonik, akan memperdalam pemahaman kita tentang heteronormativitas itu sendiri.
Misalnya, sebagaimana dikisahkan lima pekerja seks di jakarta dan empat PSK di New Delhi, yang memanipulasi pelanggan atau kliennya secara seksual. Dari penelitian Endah Sulistyowati dan Bharti Mohan tersebut, jelas memperlihatkan bagaimana dominasi laki-laki dikonstruksikan. Membandingkan pengalaman Indonesia dan India maka kita akan tercengang oleh perbedaan-pebedaan di antara ketiga kelompok perempuan yang dikaji. Hal ini memperlihatkan bahwa jender adalah sebuah proses sosial-budaya, meski di kedua negara ini jender ternyata masih dilihat sebagai sesuatu yang “alamiah” dab “stabil” (hlm. 73 dan 249) (Menurut Nur Faizah, alumnus Yayasan Qomaruddin, Bungah, Gresik. Mahasiswi Pascasarjana UGM Jogjakarta).

Sebagaimana diperlihatkan oleh rofil-profil di dalam buku ini, ada mekanisme pengaturan amat kuat yang lebih keras menekan perempuan daripada laki-laki untuk mempertahankan benteng normativitas. Bahkan laki-laki yang termasuk dalam kategori terstigma, seperti banci di Indonesia atau hijra di India, juga mendapatkan keuntungan dari patriarchal dividen (bonus patriarkal) tersebut. Penyimpangan seksual yang dilakukan oleh laki-laki lebih dapat diterima dibandingkan bila itu dilakukan oleh perempuan .
Namun sayangnya, hasil penelitian yang tertera dalam buku ini, sebenarnya tidak secara luas menguraikan ketimpangan jender dalam wilayah ekonomi-politik, tetapi lebih berkonsentrasi pada tatanan emosional ketiga kategori dalam gambaran permasalahan atas potensi-potensi hubungan tulus yang didasarkan pada kesetaraan seksual dalam kerangka kekuasaan jender. Tiga kategori perempuan yang diteliti seolah-olah tidak memiliki kedaulatan terhadap seksualitasnya sendiri. Baik seksualitas dalam maknanya sebagai identitas diri (self identity), tindakan seks, (sex action), perilaku seksual (sexual behavior), maupun sebagai orientasi seksual (sexual orientation).
Terlepas dari kesalahan editing yang cukup menggangu dalam buku ini, kaum perempuan dari pinggiran normativitas mendapatkan kembali suaranya dan berbicara kepada kita tentang bagaimana hidup mereka dikontrol oleh penjaga normativitas. Membaca kisah-kisah mereka, setidaknya... dapat membuka mata hati dan telinga kita akan potensi untuk menciptakan sebuah masyarakat yang bebas dari paksaan dan kekerasan seksual. Sehingga semua orang daat menggali seluruh potensi dirinya untuk mencinta dan dicinta, dan daripadanya memberikan cinta kepada masyarakatnya.

Cewek Jangan Kepulkan Asap...!.


Menurut Cowok, Image Jelek

Potongan dedaunan tembakau kering dikombinasikan dengan zat-zat aditif, terlinting dalam kertas, itulah yang kita kenal dengan rokok. Ketika ujungnya dibakar, kepulan asap tipis menyebar. Ribuan zat kimia merasuk, tenggorokan menghangat, otak mengisyaratkan kata “Nikmat....”
Pemerintah mengingatkan, kenikmatan itu sepaket dengan kanker, serangan jantung, impotensi dini, juga gangguan kehamilan dan janin. Tapi, rokok tetap jadi konsumsi banyak nyawa. Harga sekotaknya yang lebih mahal daripada nasi pecel komplet nggak bikin rokok sepi peminat.
Dulu, rokok selalu diidentikan sama cowok. Berdasarkan hasil persentase kuisioner oleh Deteksi Jawa Pos, sekarang nggak lagi. Sebanyak 28,6% responden cowok mengaku punya temen cewek perokok. Mayoritas dari yang punya teman cewek perokok itu sebenarnya nggak suka melihat kaum hawa mengepulkan asap (87,7%).
Namun, alasan paling tinggi mengapa para cowok tak suka cewek perokok bukan karena lintingan tembakau itu rawan penyakit (29,7%). Melainkan, lebih karena untuk jaga image (43%). Sementara 10,8% lagi khawatir si cewek dijauhi temen-temen.
Budaya orang Timur. Itulah yang membuat seorang cowok mengganggap cewek nggak baik jika merokok. “Nggak Indonesia banget,” katanya. Cowok ini juga illfeel tiap melihat teman ceweknya mengepul asap. “Yah, aku nggak nyaman sama cewek perokok. Malas dekat-dekat,” ungkapnya.
Image negatif yang menempel di cewek perokok juga muncul dalam benak siapa pun juga. Banyak yang bisa memvonisnya dengan kata-kata, “Bergaulnya pasti nggak benar, bukan?”
Kalau kata temenku di kampus, perokok aktif rentan penyakit. “Harga untuk penyembuhan lebih mahal daripada rokoknya lho,” katanya. Ia juga khawatir soal pergaulan. “Bisa aja cewek kayak gitu dijauhi. Terutama dengan sesama temen cewek,” cuapnya. Memang nggak adil kalau cewek perokok diidentikkan dengan cewek nakal. Tapi, kalau itu bisa memotivasi untuk berhenti melubangi paru-paru, kenapa nggak?
Menurut Dr. Laksmi Wulandari Sp.P (Spesialis Paru), “Pada prinsipnya, rokok sangat tidak baik untuk kesehatan. Siapa pun itu, cowok atau cewek. tetapi kaum hawa punya risiko ganda jika menjadi perokok aktif.” Bener banget kata beliau! Sebab, kaum hawa lah yang nanti melahirkan generasi berikutnya. Merokok bisa mengakibatkan beberapa penyakit. Di antaranya, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang disebabkan nikotin, tar, dan karbonmonoksida dalam rokok, serta kanker paru-paru. Oleh sebab itu, para perokok terutama cewek, dianjurkan segera berhenti
Memang, kalau nikotin sudah mulai angkat bicara, hati-hati dengan persuasinya. Otak susah juga diajak main logika. bahwa banyak yang bilang merokok banyak ruginya, otak akan menjawab, “Ih, peduli amat...”
Sebenarnya, ada obat untuk menyembuhkan kecanduan pada rokok, namun harganya belum terjangkau. Tetapi untuk berhenti merokok, yang terpenting adalah niat.
Wallahu alam bishawab.
Sumber Gambar : http://www.google.com/

Send Your Message To My EmaiL....

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):